Ketika Kabut Asap Bukan Lagi Satu-satunya Masalah di Pontianak

September 23, 2026
Oleh : blog2kitabisa

Saat bicara soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang biasanya terbayang lebih dulu adalah asapnya. Masker jadi kebutuhan utama, udara terasa berat di paru-paru, aktivitas luar ruangan dikurangi. Tapi di Kalimantan Barat, asap bukan satu-satunya hal yang memberatkan warga. Di balik kabut itu, ada kebutuhan lain yang sama mendesaknya: air bersih.

Awal Mula Cerita

Pada 15 September 2026, seorang warga menghubungi Kitabisa lewat media sosial. Pesannya singkat, tapi isinya cukup banyak: air bersih, APD, dan beberapa kebutuhan lain yang lagi dihadapi di lapangan. Tiga hari kemudian, pada 18 September, bantuan air bersih tiba di Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Dari laporan kecil itu, kami jadi ingat satu hal yang sering kami temui di lapangan: ketika bencana terjadi, persoalan warga jarang berhenti di apa yang terlihat di berita.

Kebutuhan yang Sering Tidak Muncul di Berita

Tidak semua kebutuhan bisa ditebak dari judul berita. Di satu desa, yang paling mendesak mungkin makanan. Di desa lain, obat-obatan, perlengkapan bayi, kebutuhan lansia, atau air bersih. Cerita dari warga yang berada langsung di lokasi biasanya lebih akurat daripada laporan resmi yang baru keluar berhari-hari kemudian.

Itu sebabnya satu pesan dari warga Punggur Kecil pada 15 September kami anggap serius. Setelah kebutuhan dikonfirmasi lewat koordinasi dengan pihak di lapangan, bantuan mulai diproses pada 17 September. Sehari berselang, air bersih sudah tiba dan didistribusikan lewat Posko Siaga Karhutla Kubu Raya.

Prosesnya cepat bukan karena sederhana, tapi karena setiap jam di lapangan terasa panjang untuk warga yang terdampak.

Mengapa Air Bersih Bisa Jadi Sederhana?

Air bersih terdengar seperti kebutuhan mendasar, dan memang begitulah adanya. Tapi ketika karhutla mengubah kualitas sumber air di sekitar pemukiman, sumur yang biasa dipakai warga bisa ikut terdampak. Hal yang biasanya tidak pernah dipikirkan jadi hal yang paling dicari.

Begitulah yang terjadi di Punggur Kecil. Satu laporan dari warga membuka informasi yang tidak terlihat dari luar. Setelah dikonfirmasi, air bersih sampai ke lokasi dalam hitungan hari.

Karena memahami bencana bukan hanya soal mengetahui apa yang terjadi. Lebih dari itu, memahami bencana soal melihat apa yang berubah dalam keseharian orang-orang yang mengalaminya, termasuk hal-hal kecil seperti air yang biasanya tidak pernah dipikirkan.

Akhir

Kalau ada satu hal yang bisa diambil dari cerita ini, mungkin ini: di balik setiap laporan karhutla, ada kebutuhan yang tidak selalu terekspos. Kabut asap memang yang paling terlihat, tapi tidak selalu yang paling mendesak. Kadang yang paling dibutuhkan justru sesuatu yang sederhana, air yang bisa diminum dan digunakan warga untuk menjalani hari.

Cerita dari Punggur Kecil adalah pengingat bahwa respons bencana yang baik dimulai dari mendengarkan warga, bukan dari asumsi.

Bagikan